Sagu sebagai makanan Khas Papua. Pulau Papua berada di ujung timur dari wilayah Indonesia, dengan potensi sumber daya alam yang bernilai tinggi ekonomis dan strategis. Provinsi Papua merupakan salah satu provinsi terkaya dengan penduduk yang masih sedikit dengan kekayaan alam yang begitu kaya. Kekayaan di Papua meliputi budaya, hasil hutan, perkebunan, pertanian, perikanan dan pertambangan.

Penduduk papua beberapa masih menjalani kehidupan tradisional yang banyak tinggal di Papua pegunungan dan Papua pesisir. Keduanya mengkonsumsi Sagu sebagai makanan Khas Papua. Untuk melestarikan kebudayaan Papua  yang berkaitan dengan makanan setidaknya ada dua jenis makanan pokok di Papua yaitu sagu dan ubi jalur, banyak dikonsumsi oleh orang Papua di daerah pesisir: Biak, Serui, Jayapura, Merauke, dan lain-lain.

Orang Papua biasanya tidak menanam sagu karena tanah yang subur membuat pohon sagu tumbuh subur liar dimana-mana di seluruh wilayah Papua khususnya pesisir. Tidak hanya Sagu, ikan tersedia dengan melimpah di laut dan sumber makanan lainnya di hutan. Ubi Jalar juga dijiadikan makanan pokok sebagian besar tumbuh dan ditanam di dataran tinggi. Khususnya di dataran tinggi sebagaian masyarakat  membuat kebun, bercocok tanam, dan membiakkan hewan ternak.

Karakteristik Masyarakat Papua

Masyarakat asli Papua biasanya berprofesi sebagai nelayan dan petani tradisional. Kebanyakan dari mereka masih menjalani kehidupan tradisional; makan makanan tradisional yang disiapkan dengan cara tradisional. Makanan pokok di Papua adalah nasi, akar talas dan kau-kau, Mumu, ayam Barapen dan Papeda.

Sagu sebagai makanan Khas Papua
sumber: wikipedia

Papeda yang terbuat dari bahan dasar tepung sagu. Makanan ini sangat digemari masyarakat pesisir. Untuk membuatnya relatif mudah, dengan menuangkan air panas ke dalam tepung sagu, mengaduknya berulang kali hingga mengental dan tampak seperti lem. Menikmati papeda dengan bumbu kuning atau hidangan ikan asam atau yang lainnya ditambah sambal.

Baca juga: Kuliner Warisan Budaya Mexico

Beberapa waktu yang lalu sempat makanan tradisional mengalami fase dimana kurang diminati lagi karena dianggap tidak lagi populer dan kurang berkelas. namun akhir-akhir ini warga Papua sudah mulai kembali memperkenalkan kuliner lokal sebagai warisan budaya, seperti mempromosikan sagu sebagai salah satu hidangan tradisional.

Mata pencaharian utama masyarakat di pantai utara Papua Barat adalah Sagu (inti dari pohon palem). Kebun sagu mereka adalah hutan sagu alami yang terletak 4 sampai 5 km di pedalaman.

Pohon sagu dengan umur antara 8 sampai 12 tahun sudah siap dipanen. Pekerjaan memanen sagu adalah untuk laki-laki dan perempuan. Sedangkan di daerah aliran sungai kebanyakan menjadi pekerjaan perempuan, sedangkan laki-laki adalah pemburu dan penggarap tanah.

Proses Pembuatan Sagu

Sagu adalah tepung atau olahan yang diperoleh dari pemrosesan teras batang rumbia atau “pohon sagu” (Metroxylon sagu Rottb.). Tepung sagu memiliki karakteristik fisik yang mirip dengan tepung tapioka. Seratus gram sagu kering setara dengan 355 kalori.

Di dalamnya rata-rata terkandung 94 gram karbohidrat, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10 mg kalsium, 1,2 mg besi, dan lemak, karoten, tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah sangat kecil.

Sagu sebagai makanan Khas Papua
Gambar panen sagu di papua. Sumber: https://blog.topindonesiaholidays.com/?p=2557

Sagu sebagai makanan Khas Papua dimakan dalam bentuk papeda, semacam bubur, atau dalam olahan lain. Sagu sendiri dijual sebagai tepung curah maupun yang dipadatkan dan dikemas dengan daun pisang. Selain itu, saat ini sagu juga diolah menjadi mie.

Sebagai sumber karbohidrat, sagu memiliki keunikan karena diproduksi di daerah rawa-rawa, sehingga sagu dipanen dengan tahap sebagai berikut:

  1. Pohon sagu dirubuhkan dan dipotong hingga tersisa batang saja.
  2. Batang dibelah memanjang sehingga bagian dalam terbuka.
  3. Bagian teras batang dicacah dan diambil.
  4. Teras batang yang diambil ini lalu dihaluskan dan disaring.
  5. Hasil saringan dicuci dan patinya
  6. Pati diolah untuk dijadikan tepung atau dikemas dengan daun pisang

Karakteristik Sagu Papua

Sagu (Metroxylon sagu rottb) – Sagu sebagai makanan Khas Papua telah dibudidayakan dan dikonsumsi selama puluhan tahun di provinsi terbesar di Indonesia. namun produksi sagu sendiri belum diketahui oleh kebanyakan orang Indonesia.

Sagu biasa ditemukan di daerah berawa jauh di dalam hutan, pohon mirip palem ini bisa tumbuh setinggi 15 meter dengan diameter 10 sampai 15 meter.

Dari satu pohon dapat dihasilkan 150 sampai 300 kg pati. Untuk mendapatkan sagu dari kebun di pasar merupakan proses yang panjang, dimulai dengan membuka kulit kayu, menggiling dan terakhir mengekstraksi pati. Bergantung pada ukuran pohon sagu, untuk memperoleh sagu diperlukan 4 orang yang bekerja selama 6 hari. Tepung sagu hasil ekstraksi dijual kepada pembeli dengan harga pasar 200.000 rupiah per 15 kg.

Sagu sebagai makanan Khas Papua
sumber: https://jubi.co.id/wp-content/uploads/2020/02/Sagu-potong-1024×682.jpg

Meskipun keberadaan sagu sangat diperlukan dalam rumah tangga Papua, secara mengejutkan Papua adalah penghasil sagu terbesar kedua di Indonesia, dengan produksi sekitar 30.000 ton pada tahun 2016 – jauh dengan Provinsi Riau dengan produksi 378.000 ton pada periode yang sama.

Peran Penting Sagu Untuk Masyarakat Papua

Hal ini berkaitan dengan mayoritas petani sagu hanya bekerja memanen dan mengolah sagu ketika kebutuhan konsumsi di rumah tangga mereka meningkat. Hanya setelah memenuhi kebutuhan sagu rumah tangga sendiri, seorang petani sagu akan menjual sagu olahan yang tersisa ke pasar terdekat. Dalam hal ini, sagu tidak dilihat sebagai tanaman komersial biasa.

Nilai sagu sangat berarti bagi masyarakat Papua. Selain Sagu sebagai makanan Khas Papua juga menajdi warisan budaya, nilai ekomonis menyoroti peluang bagi petani sagu di Papua untuk meningkatkan daya saing mereka dengan daerah penghasil sagu lainnya.

Di sisi lain, fungsi tanaman sagu dapat berperan sebagai pengaman lingkungan karena dapat mengabsorbsi emisi gas karbondioksida yang berasal dari lahan rawa dan gambut ke udara. Budidaya sagu sangat diperlukan untuk kehidupan masyarakat Papua di masa mendatang untuk menopang ekonomi, nilai budaya dan aspek lingkungan Provinsi Papua sendiri sehingga membutuhkan peran aktif semua lapisan masyarakat yang terkait atas langkah baik ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here