Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak – Pada oktober lalu, saya dan teman saya, bili tiba-tiba ingin jalan-jalan sekedar trekking  alam untuk melepas penat. Kebetulan kami tinggal di pinggiran ibu kota. Kota administrasi Jakarta Selatan merupakan bagian dari selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pinggiran yang kami maksud yaitu jakarta selatan yang sangat dekat dengan depok. Kami tinggal di kecamatan Pasar Minggu.

Nama kecamatan ini diambil dari nama Pasar Minggu yang begitu tersohor tersebut. Pusat jual beli buah seperti lagunya pepaya, mangga pisang dan jambu. Batas kecamatan di sebelah timur dengan Kali Ciliwung / Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur, sebelah utara dengan Kecamatan Mampang Prapatan dan Pancoran, sebelah barat dengan Kecamatan Cilandak dan sebelah selatan dengan Kecamatan Jagakarsa.

Perjalanan Menuju Bogor Tengah

Hari sabtu tanggal 17 oktober 2020, kami penat sekali. Kami memutuskan untuk menuju ke rumah teman kami yang ada di Bogor. Perlengkapan seadanya saja, seperti kompor lapangan dua unit, nesting satu, gas  hi-cook yang sudah setengah kami rasa cukup untuk sekedar memasak air dan mie instan. Perbekalan yang kami siapkan juga hanya mie instan dan kopi sachet mungkin di jalan nanti kalau ada ayam potong atau buah – buahan kami berhenti untuk beli. Tidak lupa kami siapkan flysheet dan tali rafia untuk berjaga-jaga jika terkena hujan saat treking.

Waktu itu menunjukan Pukul 22.00 Wib. Kami bergegas menggunakan sepeda motor matic kami. Memilih jalur dari Pasar Minggu – Kelapa Dua Depok– jalan raya Bogor. Jalur ini kami pilih karena ada perbekalan yang kami beli di Kelapa dua Depok. Jalan kami santai, diselingi dengan pembahasan Landmark atau bangunan yang baru berdiri di sepanjang jalan raya Bogor. Saat itu jalan agak sepi, hanya ada beberapa rombongan touring yang sepertinya ke arah Puncak, Bogor.

Bogor tempat yang nyaman untuk tinggal

Pukul menunjukan 01.00 Wib, sedikit lagi kami akan sampai rumah teman kami. Rumah teman kami berada di Jl. Raya Pajajaran, Bogor tengah. Tepatnya di belakang rumah sakit Siloam Hospitals Bogor. Sampailah kami di kediaman Andri dan Riri, mereka adalah pasangan yang telah menikah. Mereka memilih menetap di Kota Hujan ini selain sebagai kota asal Riri, juga karena memiliki suasana teduh dan banyak destinasi wisata alam.

Sebelumnya kami sudah berkabar via Whatsapp ingin singgah dan tentunya mengajak mereka jalan-jalan. Namun destinasi belum ditentukan, dadakan kami menyatakan ingin trekking ke Kawah Ratu. Mereka juga setuju dengan ajakan kami. Di antara kami belum pernah ada yang ke sana. Penuh antusias kami sepakat ke kawah ratu nanti pagi.

Baca juga tentang: Indahnya Lansekap Gunung Kencana Bogor

Kami berbincang di teras rumah dengan pelan karena sudah larut. Kota Bogor serasa cukup dingin kala itu diselingi suara jangkrik. Obrolan larut dengan jejamuan teh hangat dan kue brownis buatan Andri yang kaya cita rasa.

Tidak terasa pukul menunjukan 03.00 Wib. Kami memutuskan untuk tidur sebentar karena pagi kita akan berangkat ke Kawah Ratu, Gunung Salak.

Tujuan Awal Ke Kawah Ratu

Kawah Ratu merupakan salah satu Resort (RPTN) yang ada di SPTN Wilayah III Sukabumi, Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Lokasi ini sejatinya adalah kaki Gunung Salak dari sisi lereng selatan Gunung Salak. Sedangkan secara administratif pemerintahan, lokasi wisata berbatasan dengan Desa Cidahu, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Pukul 06.30 Wib, kami bersiap untuk berangkat tidak lupa sarapan dan mandi namun sepertinya mandi bisa dilakukan pulang nanti. Air keran di Bogor terasa kurang bersahabat jika di kala pagi hari.

Estimasi perjalanan sekitar 2 jam lebih. Tujuan kami arahkan ke Javana Spa untuk patokan. Patokan lainnya yaitu Pom bensin Cicurug lalu belok ambil jalan ke kanan menanjak ke jalan Cidahu. Setelah melalui jalan menanjak yang lumayan curam akhirnya kami sampai di gerbang pos pendakian. Saran untuk yang akan menuju ke sini harus dipersiapkan kendaraan yang cukup tangguh.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
( Credit Gambar: https://www.google.co.id/maps )

Jam 08.00 Wib kami sampai di gapura besar pos simaksi gunung Salak. Kami bertanya ke petugas berapa tiket masuk trekking Kawah Ratu. Namun ternyata wisata kawah ratu belum dibuka untuk umum di jalur ini. Waduh kami sempat kecewa karena dari informasi masih simpang siur soal trekking ke kawah ratu. Memang sebelumnya kami sudah cari tau bahwa pendakian Gunung salak ke puncak 1 manik memang ditutup sejak bulan februari dikarenakan adanya pemulihan vegetasi, perbaikan jalur dan terkait pandemi.

Perubahan Arah Destinasi

Secara administratif wilayah kerja TNGHS termasuk dalam wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi di Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Lebak di Provinsi Banten. Sebagian kawasan TNGHS tersebut berubah fungsi menjadi hutan lindung, hutan produksi tetap dan hutan produksi terbatas serta pengembalian areal penggunaan lain. Kawasan TNGHS digolongkan beriklim selalu basah.

Kami sempat mendengar kabar bahwa wisata kawah ratu tetap dibuka di jalur lainnya yaitu pasir rengit, namun untuk ke sana dibutuhkan waktu yang lumayan lama. Kami lalu diarahkan untuk kalau mau sekedar trekking bisa menuju beberapa curug di kawasan gunung salak ini.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
terusan jalan ke Javanna spa.

Kami memutuskan untuk melanjutkan trekking ke curug gunung salak. Untuk belajar mengamati dan berbagi lingkungan hidup di curug lima gunung Salak. Resort Kawah Ratu memang memiliki 7 (tujuh) air terjun dengan lokasi yang cukup tersebar. Namun demikian, air terjun yang mudah dan biasa dikunjungi hanya berjumlah 5 air terjun, yaitu Curug satu, dua, tiga, empat dan lima.

Setelah beristirahat, kami membayar retribusi Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi (SIMAKSI) sekitar 15-20 ribu perorang. Kami berangkat menuju parkiran atas karena parkiran bawah ditujukan untuk mereka yang ingin camping di camping ground Cangkuang. Parkiran atas, letaknya dekat gerbang pendakian gunung salak puncak satu.

Cocok Untuk Tempat Camping

Pukul 08.22 wib kami sampai di warung. Ternyata lumayan jauh juga jarak dari pos simaksi ke parkiran warung ini. Jalannya menanjak dan kanan kiri merupakan camping ground yang sangat luas.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
(Credit Gambar: ajakanak.com)

Kami melakukan persiapan sebelum trekking seperti pemanasan dan berganti pakaian. Setelah berdoa kami mulai berjalan mengikuti jalan aspal. Informasi yang kami dapat dari pos simaksi adalah ikuti jalan aspal setelah gerbang pendakian gunung salak sebelah kiri, patokan jalan untuk ke curug ada di sebelah kanan. Kami berjalan menikmati suasana gunung salak yang sangat teduh. Kicau burung yang bersahutan menemani perjalanan kami. Pengunjung lain masih belum terlihat mungkin karena terlalu pagi.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
Gerbang Pendakian GUnung Salak 1 Puncak Manik. 

Kami terus berjalan tapi tidak terlihat plang curug.  Ada beberapa jalan menurun ke bawah sebelah kanan yang kami lewati tapi masih belum yakin itu adalah jalan ke curug. Kami malah hampir sampai ke Javanna Spa. Sepertinya jalan ke curug terlewat. Kami berjalan turun kembali dan tenyata ada plang terbuat dari kayu yang bertuliskan arah ke curug.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
Bunga Pacar Air bermekaran pada musim ini.
Pacar air sekilas mirip dengan Bunga Kangkungan

Ditepi jalan kami melihat banyak sekali bunga berwarna putih keunguan. Menurut beberapa sumber yang kami telusuri bunga ini adalah pacar air yang memiliki bunga yang berwarna putih, merah, ungu, atau merah jambu. Bentuk bunganya menyerupai bunga anggrek yang kecil. Tinggi tanaman ini bisa mencapai satu meter dengan batangnya yang tebal namun tidak mengayu dan daunnya yang bergerigi tepinya.

Baca juga: Pesona Gunung Batu Jonggol Jawa Barat

Tanaman ini sangat disukai lebah dan serangga lain yang membantu penyerbukannya. Walaupun demikian, tanaman ini tidak dapat hidup di lingkungan yang kering. Berbagai bagian tanaman ini biasa digunakan sebagai obat tradisional. Pacar air dapat hidup tanpa akar sebab batangnya bisa menghisap air, tetapi apabila akarnya dihilangkan, maka pacar air harus ditaruh di gelas penuh air atau yang lainnya. Sekilas sangat mirip dengan kangkungan pagar atau krangkungan yang tumbuh liar di tepi sungai dan sawah.

Menuju ke Kawasan Curug Lima Gunung Salak

Kami terlewat karena sangat menikmati perjalanan kami. Setelah kami yakin bahwa itu adalah jalan ke curug, kami mengikuti jalan itu. Jalan awal ditandai dengan menuruni trek tanah berbatu. Trek yang licin menyebabkan Andri terpeleset dan jatuh. Kami tidak menolongnya karena lucu sekali. Tidak lama berjalan, kami menemukan capung berwarna biru tua. Begitu indah kami perhatikan dia diam saja di daun pohon, mungkin dia tertidur pulas.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
Capung biru hinggap di daun

Salah satu serangga yang banyak terdapat di Indonesia adalah capung. Indonesia memiliki jumlah capung yang melimpah dikarenakan kondisi iklim tropis. Dari sekitar 7.000 spesies Odonata yang telah teridentifikasi di seluruh dunia, di Indonesia terdapat sekitar 800 spesies capung

Capung ini memiliki warna hitam metalik pada sayap dan terdapat pantulan biru apabila terpapar cahaya. Kedua matanya besar dan tampak jelas pada sisi kanan dan kiri.

capung menandakan kebersihan air

Salah satu jenis capung jarum dapat berperan sebagai indikator kebersihan lingkungan, terutama daerah perairan. Semakin banyak capung yang ditemui menandakan semakin baiknya kualitas perairan di daerah sekitar. Hal ini karena larva capung rentan terhadap air yang terpolusi, sehingga tingginya polusi meningkatkan kematian larva capung. Capung ini tinggal dekat sumber air bersih dan rentan terhadap dampak dari aktivitas manusia, seperti alih fungsi kawasan hutan, pembangunan perumahan, pembukaan persawahan, perkebunan dan area industri.

Vegetasi di Kawasan Curug Lima Gunung Salak

Puas melihat keindahan warna capung, kami masuk ke lebih dalam hutan. Wangi khas hutan masuk ke tubuh kami melalui hidung kami dan memenuhi paru-paru kami. Tak jarang kami berhenti beberapa saat untuk menghirup nafas dalam-dalam untuk sekedar menikmati sumber oksigen. Kanan kiri kami didominasi dengan ragam tumbuhan seperti pakis. Pakis yang kami temukan sangat unik mengingatkan kami seperti jaring spiderman. Kami tidak sabar untuk melihat lebih banyak lingkungan hidup di curug lima gunung Salak.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
Pakis dengan bentuk untik di sepanjang jalur menuju curug lima gunung salak.

Tumbuhan paku, paku-pakuan, atau pakis-pakisan adalah sekelompok tumbuhan dengan sistem pembuluh sejati. Tumbuhan ini melepaskan spora sebagai alat penyebarluasan dan perbanyakannya, menyerupai kelompok organisme seperti lumut dan fungi. Pemanfaatan tumbuhan paku oleh manusia terbatas. Kebanyakan menjadi tanaman hias, sebagian kecil dimakan, sebagai tumbuhan obat, atau bahan baku untuk alat bantu kegiatan sehari-hari.

Trek yang kami lalui merupakan jalan setapak dengan batu yang tertata dan berlumut. Terkadang kami melalui beberapa pecahan anak sungai yang berbentuk seperti selokan dengan miniatur air terjun. Sangat indah. Air sangat melimpah dan sangat jernih. Selokan itu berakhir di jurang sebelah kanan kami. Terlihat seperti curug.

Kami melihat bunga indah sekali. warnanya didominasi oleh merah. Bunga ini tumbuh tanpa batang. Hanya tergeletak manis di tanah menunggu orang yang melintas untuk memperlihatkan keindahannya. Bunga itu salah satu jenis dari bunga tepus hutan.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
Bunga Tepus berwarna merah.

Baik tepus maupun jahe, sama-sama tumbuhan aromatik dan memunyai batang yang termodifikasi menjadi rimpang. Tepus di jenis yang lain bisa tingginya dapat mencapai 8 m. Pada umumnya, tanaman ini tumbuh di lembah, kebun tradisional, hutan sekunder, daerah aliran sungai, dan di dasar hutan primer pada ketinggian 40–1650 Mdpl. Bunganya memiliki bagian lidah bunga yang menyempit. Bagian tengah lidah bunga berwarna kuning terang, sementara bagian tepinya berwarna merah.

Tepus bisa digunakan untuk survival

Tepus merupakan salah satu jenis tumbuhan yang dapat dikonsumsi dalam keadaan terdesak di hutan. Batang muda dan buahnya dapat dimakan. Batang yang masih muda rasanya seperti kubis dan jika sudah tua akan menjadi pahit. Sementara bagian buah, rasanya agak asam dan sangat beraroma harum.

Perjalanan kami lanjutkan, jalan semakin licin dan vegetasi hutan terasa sangat rapat. Di trek juga terdapat beberapa kotoran hewan. Memang pada bulan itu matahari sedikit malu menampakkan dirinya. Langit sedikit gelap dan rintik hujan turun tapi tidak deras. Setelah itu hilang begitu saja mungkin kabut melewati kami. Curah hujan yang tinggi menyebabkan lumut tumbuh subur di sekitar kami. Kami melintasi pohon besar yang sudah tumbang sejak lama sepertinya. Di pohon itu terdapat lumut yang sangat banyak. Warnanya hijau begitu indah memberikan nuansa kesuburan dan teduh.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
Pohon tua yang tumbang menjadikan jalur ini semakin menarik

Tumbuhan lumut merupakan sekumpulan tumbuhan kecil yang belum memiliki akar dan daun sejati. Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis. Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor, yang tumbuh di suatu tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan lumut berukuran kecil tetapi membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang luas.

Lumut merupakan Tumbuhan Pelopor

Di dunia terdapat sekitar 4.000 spesies tumbuhan lumut (termasuk lumut hati), 3.000 di antaranya tumbuh di Indonesia. Kebun Raya Cibodas di Jawa Barat memiliki “taman lumut” yang mengoleksi berbagai tumbuhan lumut dan lumut hati dari berbagai wilayah di Indonesia dan dunia. Tumbuhan lumut memiliki peran dalam ekosistem sebagai penyedia oksigen, penyimpan air (karena sifat selnya yang menyerupai spons), dan sebagai penyerap polutan.

Tumbuhan ini juga dikenal sebagai tumbuhan perintis, mampu hidup di lingkungan yang kurang disukai tumbuhan pada umumnya. Tumbuhan lumut yang tumbuh di lantai hutan hujan membantu menahan erosi, mengurangi bahaya banjir, dan mampu menyerap air pada musim kemarau.

Kondisi Jalur Menuju Curug Lima Gunung Salak

Curah hujan yang tinggi menyebabkan jalur lingkungan hidup di curug lima gunung Salak terputus karena longsor. Terlihat pepohonan banyak yang tercabut sampai ke akar maupun hanya patah. Jalur longsor masih terdapat aliran air yang melihat. Tanah merah yang basah menyebabkan pijakan kami agak licin. Kami berhasil melewati bagian longsor ini dengan hati-hati.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
Jalur longsor semenjak curah hujan meningkat.

Setelah berjuang di tanah yang licin, jalan kembali membaik dengan batu-batu tertata rapih. Kadang jalan menurun seperti melewati tangga landai raksasa. Sesekali angin sejuk menerpa kami di beberapa tempat yang terbuka. Pemandangan yang kami lihat yaitu hutan dengan vegetasi yang sangat rapat. Kabut tebal mendominasi bukit di seberang kami. Muncul kecemasan kami jika hujan besar akan semakin sulit trekking pulang.

Suara gemuruh air kian dekat dengan kami. Cuaca cerah menghampiri kami setelah gerimis tersapu oleh angin lembah dari jurang. Dari kejauhan Curug lima Gunung Salak dengan megahnya menumpahkan air ribuan galon. Kami terpukau dengan derasnya aliran curug ini. Curug atau air terjun gumamku. Kami sampai Curug setelah melewati jurang kecil.

Kemegahan Curug Lima Gunung Salak

Pukul menunjukan 09.16 wib kami bersiap untuk memasak air. Peralatan memasak kami keluarkan dari tas kami. Cukup lapar pagi itu. Kami membuat mie rebus dan Kopi hangat untuk menemani kami melihat – lihat secara langsung kondisi curug ini. Terlihat beberapa sampah yang sudah lama terbuang begitu saja. Sungguh miris di tempat seindah ini orang-orang tidak bertanggung jawab atas kegiatannya di alam terbuka.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
Air Terjun atau Curug Lima Gunung Salak

Setelah makan, kami mendekati curug lima ini. Hembusan angin yang cukup kencang jika dari dekat. Ketika kami menyelupkan kaki kami, dingin sekali air yang menyentuh kulit kami. Sesekali kami tidak sengaja meminum air ini, rasanya seperti benar-benar air dari kulkas. Sesekali kami berendam di aliran curug yang membentuk bak mandi besar.

Nikmat sekali, saya menyebut ini sebagai pemulihan atas kegiatan yang monoton setiap hari. Energi positif yang terpancar di tempat ini terpapar mendalam ke hati kami.

Hari sudah semakin siang, namun matahari kian meredup dan rintik hujan turun. Kami bergegas untuk bersiap-siap pulang menuju parkiran. Tidak lama, beberapa orang datang untuk menikmati  keindahan curug ini berfoto-foto dengan gaya yang lucu. Terlihat dari mereka sangat menikmati perjalanan ini meskipun ada beberapa terlihat lemas.

Perjalanan Pulang

Kami beranjak dari curug jam 10.43 wib. Jalan yang kami lalui sama seperti pergi. Ada jalan turun lainnya dengan menyusuri aliran sungai Curug ini, trek nya didominasi batu kali namun akhir dari jalur itu adalah parkiran bawah (Pos Simaksi). Kami tidak melalui jalur lain karena kendaraan kami dititipkan di parkiran dekat warung terakhir. Jalur pulang kami agak licin karena hujan rintik-rintik menemani sesekali kami sempat terpeleset namun masih pegangan. Kami sampai warung jam 12.00 Wib disambut dengan Kupu-kupu.

Kupu-kupu untuk penyerbukan tanaman

Kupu-kupu merupakan serangga yang memiliki sayap sisik. Secara sederhana, kupu-kupu umumnya aktif di waktu siang (diurnal). Kupu-kupu membantu bunga-bunga berkembang menjadi buah. Sehingga bagi petani, dan orang pada umumnya, kupu-kupu ini sangat bermanfaat untuk membantu jalannya penyerbukan tanaman.

Lingkungan Hidup di Curug Lima Gunung Salak
Kupu-kupu menyambut kami pulang.

Kami memesan beberapa minuman dan cemilan di warung. Kemudian berbincang tentang wacana ingin mendaki gunung salak jika sudah diresmikan dibuka untuk pendakian. Kami pulang jam 13.16 Wib. Pengalaman yang sungguh menarik. Kami disuguhkan vegetasi yang masih asri karena curug ini memang baru dibuka untuk umum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here