Minuman beralkohol memiliki sejarah panjang di Indonesia. Meskipun tidak ada catatan pasti, penemuan peninggalan setidaknya memberikan gambaran bahwa kebiasaan itu telah berlangsung lama. Beberapa daerah seperti Bali, Sulawesi, Lombok, Banyumas dan Semarang dikenal juga sebagai daerah yang memproduksi minuman berfermentasi ini sampai sekarang.

Budaya minum sering dikaitkan dengan kearifan lokal suatu daerah. Nilai keakraban dituangkan dalam bentuk sajian untuk kerabat dan tamu. Lebih jauh, merupakan bentuk  menghargai nilai budaya nenek moyang yang juga dianggap gaya hidup mewah para bangsawan di kejayaan masa lalu. Selain itu, minuman ini sering hadir untuk keperluan upacara adat, ritual adat dan acara kebudayaan lainnya yang berkaitan erat dengan kesakralan suatu prosesi.

Persoalan Minuman Beralkohol di Indonesia

Definisi minuman beralkohol tertuang pada Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 Tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol (selanjutnya disebut PP 74/2013) adalah minuman yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi.

Sesuai dengan definisi tersebut, Pasal 3 ayat 1 Perpres No. 74/2013 mengelompokkan minuman beralkohol dalam 3 golongan, yakni:

  1. Minuman Beralkohol golongan A adalah minuman yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) dengan kadar sampai dengan 5% (lima persen);
  2. Minuman Beralkohol golongan B adalah minuman yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) dengan kadar lebih dari 5% (lima persen) sampai dengan 20% (dua puluh persen); dan
  3. Minuman Beralkohol golongan C adalah minuman yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) dengan kadar lebih dari 20% (dua puluh persen) sampai dengan 55% (lima puluh lima persen)

Pembahasan soal minuman beralkohol (minol) seakan tidak pernah ada habisnya. Berbeda pandangan antar sisi pun tidak lepas dari pro dan kontra seputar peredaran minol. Akhir-akhir ini persoalan itu sedang kembali marak diperbincangkan di meja makan semua golongan masyarakat di Indonesia, berikut adalah beberapa rangkaian persoalannya yaitu:

    • Pada pertengahan tahun 2020, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyiapkan Rancangan Undang-Undang Minuman Beralkohol (RUU Minol). RUU itu memuat soal larangan produksi, penyimpanan, peredaran, dan konsumsi minuman beralkohol untuk beberapa jenis, yakni minuman beralkohol dengan kadar etanol 1-5 persen, 5-20 persen, dan 20-55 persen. Larangan juga berlaku untuk minuman beralkohol tradisional dan campuran atau racikan. Nantinya, minuman beralkohol hanya boleh untuk kepentingan adat, ritual keagamaan, wisatawan, farmasi, dan tempat-tempat yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan (CNN)
RUU Larangan Minuman beralkohol dinilai kurang dewasa oleh paguyuban masyarakat adat. Saran yang disuguhkan yaitu dengan pengendalian, pengaturan, dan pengawasan yang ketat serta penegakan hukum yang konsisten.
    • Berbanding terbalik dengan RUU Minol, nyatanya penjualan minol secara signifikan menyusut drastis 50%-60% bahkan ada yang sampai 80% di sepanjang tahun 2020 sekalipun ada momentum natal. Hal ini dirasakan oleh PT Delta Djakarta Tbk. Penyebabnya yaitu tempat hiburan malam yang tidak beroperasi sementara di masa pandemi (news: industri kontan).
    • Beberapa pekan lalu tepatnya bulan maret tahun 2021, investasi untuk industri minuman keras (miras) telah resmi dilegalkan. Aturan ini tertuang dalam Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.Penanaman modal ini baru dapat dilakukan di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT). Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya dan kearifan lokal. (CNN)
    • Perpres ini telah memancing banyak penolakan di tengah masyarakat. Banyak pendapat dari berbagai golongan yang memperdebatkan peresmian Perpres tersebut. Buntut penolakan dari masyarakat direspon oleh pemerintah dengan mengambil suatu tindakan.Selasa, 2 maret 2021 Presiden memastikan mencabut lampiran Peraturan dan menyatakan keputusan itu diambil setelah mendengar masukan dari beberapa kelompok masyarakat, seperti ulama, MUI, NU, dan organisasi masyarakat (ormas) lainnya. (Nasional tempo)

Mengenal Minuman Beralkohol Tradisional di Indonesia

Dengan munculnya pembahasan tentang minol yang kembali ramai. Mungkin saja Anda membutuhkan beberapa informasi mendasar seputar minuman beralkohol. Pertanyaan yang mungkin ada seperti “apa saja jenis minuman beralkohol di Indonesia?”, “bagaimana perizinan penjualan minol?” dan mungkin beserta contoh minol tradisional yang sedikit banyak memiliki keterkaitan terhadap lika-liku peraturan yang sedang ramai diperbincangkan.

Minuman beralkohol terdiri dari dua jenis yaitu produksi dalam negeri dan asal impor. Khusus untuk minuman beralkohol tradisional, memiliki ciri khas yaitu diproduksi secara turun temurun yang dikemas sederhana dan pembuatannya dilakukan sewaktu-waktu, serta dipergunakan untuk kebutuhan adat istiadat atau upacara keagamaan.

Minuman Beralkohol yang berasal dari produksi dalam negeri hanya dapat diproduksi oleh pelaku usaha yang telah memiliki izin usaha industri darimenteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Peredarannya memerlukan izin kepala lembaga yang menyelenggarakan pengawasan di bidang obat dan makanan. Ditambah dengan pemenuhan standar mutu produksi, standar keamanan dan mutu pangan

Minuman Beralkohol golongan A, golongan B, dan golongan C hanya dapat dijual di:
    1. hotel, bar, dan restoran yang memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundang undangan di bidang kepariwisataan;
    2. toko bebas bea; dan
    3. tempat tertentu selain huruf a dan b yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota dan Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Peraturan lainnya menyebutkan bahwa penjualan minuman beralkohol tidak berdekatan dengan tempat peribadatan, lembaga pendidikan dan rumah sakit. Minuman Beralkohol golongan A juga dapat dijual di toko pengecer dalam bentuk kemasan.

Peraturan yang disebutkan diatas berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol. Kepres tersebut kemudian disempurnakan dalam bentuk Perpres Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2013 Tentang Pengendalian Dan Pengawasan Minuman Beralkohol.

Seperti yang dituliskan di atas, mendapatkan perizinan dalam menjual minol tidak mudah. Butuh rangkaian proses yang cukup panjang dan pengecekan berkala sehingga dinilai sudah cukup ketat.

Minuman beralkohol khas Jawa tengah

Ada berbagai macam minuman beralkohol tradisional di indonesia, seperti tuak yang terbuat dari bunga aren, sopi yang dihasilkan dari fermentasi aren, arak dari olahan sari kelapa dan buah, Ballo khas sulawesi dari pohon nipa, cap tikus dari minahasa, ciu bekonang dari semarang dan lain-lain. Dari sekian banyak minuman beralkohol tradisional tersebut, kami akan mengambil Ciu Bekonang dari Semarang sebagai pembahasan.

Ciu dikenal sebagai minuman keras lokal asal Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah. Ciu ada yang dihasilkan dari proses fermentasi singkong cair yang terbuang percuma dalam proses pembuatan tapai. Ada juga yang terbuat dari hasil penyulingan molase atau limbah cair yang terbuang dalam proses pembuatan gula dan telah difermentasi yang disebut tetes tebu. Setelah difermentasi dapat mengandung alkohol dan memiliki efek memabukkan, dan dianggap minuman keras yang terjangkau, menjadikannya minuman keras favorit di kalangan anak muda.

Pro dan Kontra Minuman Beralkohol di Indonesia
Credit gambar: Ytchannel asumsi
Baca juga: Lingkungan Hidup Gunung salak Bogor

Ciu dijual dengan botol bekas air mineral 600 mililiter. Sebotol beragam harga mulai dari Rp 20 ribu. Ciu bekonang terdapat tiga jenis, yaitu ciu ketan hitam, ciu murni dan ciu gedang dengan beragam persentase alkohol dan rasa. Ciu banyak dinikmati oleh berbagai kalangan di Jawa Tengah dan sekitarnya yang dapat menyentuh lapisan sampai terbawah.

Sedangkan ciu yang berbahan tetes tebu paling terkenal dari Desa Bekonang, Sukoharjo, dekat Solo. Oleh karena itu, ciu jenis ini kerap disebut dengan nama Ciu Bekonang atau Ciu Cangkol, terkadang disebut pula sebagai arak khas Solo.

Ciu bekonang

Desa bekonang menjadi sentra industri alkohol yang sudah ada sejak zaman kolonial dengan penggunaan alat sederhana. Ciu memiliki sejarah panjang di Indonesia. Mulai dari zaman penjajahan Belanda atau sekitar abad ke-18. Awalnya dikenal sebagai minuman keras “Batavia Arrack van Oosten” menghasilkan alkohol menggunakan bahan baku seperti beras fermentasi, molase, dan kelapa.

Ciu adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebut jenis arak tradisional di Indonesia, terutama yang berkembang di beberapa daerah di wilayah Jawa Tengah. Ada sejumlah pendapat yang berbeda mengenai ciu, termasuk terkait bahan pembuatnya.

Pengolahan ciu bekonang
  1. Tetes tebu (bahan pembuatan alkohol)
  2. Mengalami proses fermentasi (5-6 hari), peragian, dicampur air, (peragian jenis mikroba memakan sisa sisa gula, sehingga timbul alkohol
  3. Destilasi (penyulingan)
  4. Minuman beralkohok Ciu dengan kadar 25%
  5. Alkohol medical (setelah ditinggikan alkoholnya > 70%) atau handsanitizer

Awalnya, ciu dibuat untuk tujuan menghangatkan tubuh. Ciu yang memiliki kandungan alkohol 25% hingga 30% efektif untuk memberikan rasa hangat pada tubuh. Selain itu, dapat digunakan sebagai minyak pijat. Ciu yang dicampur dengan bumbu bisa dijadikan minuman penambah stamina bahkan dapat digunakan untuk keperluan pengobatan dan sering digunakan dalam produksi kosmetik.

Baca juga: mengenal suku togutil (tobelo)

Kandungan alkohol ciu cukup tinggi jika dibandingkan dengan minuman beralkohol lain seperti bir yang tersedia di pasaran. Kandungan alkohol ciu yang tinggi terjadi karena biasanya hanya melalui satu proses destilasi dalam pembuatannya. Sedangkan alkohol pada umumnya harus melalui proses destilasi sebanyak 3 kali. Terkait dengan ini, sering dianggap sebagai alkohol yang belum sempurna.

Ciu murni memiliki kandungan alkohol yang bervariasi dari 25% hingga 70%. Bahkan ada jenis yang mengandung alkohol hingga 90% setelah melalui dua kali penyulingan. Kadar alkohol ciu yang lebih dari 70% dijadikan sebagai kepentingan medical dan handsanitizer. Sebagai perbandingan, kadar alkohol bir dalam kemasan yang telah melalui tiga kali proses penyulingan umumnya hanya berkisar 4,5 hingga 8 persen. Perbedaan kandungan alkohol yang tinggi membuat ciu mampu memberikan efek memabukkan yang luar biasa.

Pemanfaatan Limbah Ciu

Setiap industri pasti terdapat sisa dari penggunaan bahan utamanya yang disebut limbah. Limbah ada yang dimanfaatkan dan ada yang terbuang percuma. Untuk limbah ciu terdapat Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) di dekat pemuatan ciu. Limbah ini kemudian diolah menjadi pupuk organik cair untuk perbaikan struktur tanah. Kerusakan struktur tanah diakibatkan pemakaian pupuk kimia yang zat zatnya yang tidak terserap oleh tanaman. Zat itu kemudian tertinggal di tanah secara bertahap dan mengendap menyebabkan struktur tanah terganggu atau rusak.

Kondisi saat ini

Minuman beralkohol yang telah disebutkan di atas memiliki nilai historis yang melekat pada sebagian masyarakat Indonesia. Dari segi ekonomi, industri kecil dan besar setidaknya telah memberikan usaha dalam menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar, lebih jauh lagi minuman alkohol menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara dalam menyelami kebudayaan Indonesia yang sangat unik. Limbah dari pembuatan minuman beralkohol juga dijadikan pupuk cari organik yang memiliki peran penting dalam meremajakan tanah kembali.

Pro dan kontra minuman beralkohol di Indonesia telah terjadi sejak lama. Peraturan yang dibuatpun beberapa kali telah disesuaikan dengan kebutuhan. Masukan beberapa elemen penting di masyarakat juga menambah keberagaman opini pribadi maupun ilmiah agar terciptanya kondisi kenyamanan bersama. Kedewasaan dalam berfikir mengenai minuman alkohol di indonesia merupakan poin penting yang mampu mengesampingkan kepentingan pribadi.

Industri minuman beralkohol di Indonesia telah memberikan sisi positif dan negatif yang telah dijelaskan di atas. Peraturan yang baru dirancang dan telah disahkan akan memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Melihat Indonesia merupakan negara yang terdapat beragam suku, ras, agama dan budaya didalamnya. Jalan tengah merupakan solusi yang diharapkan dapat diambil dalam rangka menjaga kesatuan dan persatuan Indonesia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here