Ada kisah yang menarik bagi saya untuk menuliskan tentang salah satu candi di Jawa Tengah. Candi Ngempon namanya. Berada di tengah sawah, ditemukan saat seorang petani sedang mencangkul disana.

Menurut jurnal yang diterbitkan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang tahun 2019, Candi Ngempon pertama kali ditemukan pada tahun 1952. Lokasinya berada di Desa Ngempon, Bergas, Semarang, Jawa Tengah.

Menikmat sore yang teduh di pelataran candi

Kunjungan pertama saya ke Candi Ngempon adalah sekitar bulan Januari tahun 2017. Saat sedang santai siang di kamar kost sambil membaca buku Manjali dan Cakrabirawa karangan Ayu Utami yang di dalamnya terdapat kisah yang menceritakan tentang candi-candi di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, datang teman saya yang bernama Welling. Ia pegiat (atau pelaku) sejarah yang ketika bercerita terasa menyenangkan dan membahagiakan pendengar. Welling mulai bercerita tentang candi-candi dalam novel.

Berhubung sedang membahas candi, maka terbersit oleh Welling, siang itu, untuk mengunjungi salah satu candi di kaki Gunung Ungaran: Candi Ngempon.

Setelah matahari agak condong ke barat saya dan Welling berangkat dari Tembalang menggunakan Vespa ke Candi Ngempon. Melewati Banyumanik yang jalannya menanjak, lalu masuk daerah Ungaran. Setelah melewati Pasar Karangjati Bergas, belok kiri, dan lurus terus. Kemudian masuk ke jalan Desa Ngempon.

Waktu saya kesana tidak ada papan petunjuk jalan yang terpasang, yang sebenarnya berfungsi sekadar informasi untuk mengetahui letak keberadaan candi disana. Tapi setelah masuk ke jalan Desa Ngempon, terdapat papan yang menunjukan arah ke lokasi candi.

Masuk jalan agak sempit, dengan perumahan penduduk yang cukup padat, tapi masih asri. Hingga sampai bertemu gapura yang terbuat dari bambu dan genting ala kadarnya. Bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Candi Ngempon Kecamatan Bergas,”. Di bawahnya terdapat logo dan tulisan salah satu perusahaan: Yazaki – PT Sami.

Kawasan di sini banyak terdapat pabrik. Hal itu yang membuat Candi Ngempon berada dalam rimba kota yang pengap dan sesak, berdiri menyendiri terasing dan bersanding dengan candi modern pertanda kuasa jaman yang terus berubah.

Setelah sampai di gapura, saya dan Welling istirahat. Saat itu tidak ada penjaga yang terlihat. Hanya beberapa warga berlalu-lalang. Dan sesekali pemuda kabupaten sekitar, menggeber sepeda motor dengan knalpot yang cerewet. Mengganggu keasrian.

Saya menitipkan Vespa di warung yang berada tidak jauh dari gapura.

Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju candi. Lokasinya berada di tengah-tengah perkebunan dan sawah. Bersebelahan dengan Kali Jumbleng yang alirannya berasal dari Gunung Ungaran di sebelah barat candi yang berada di ketinggian 350 meter di atas permukaan laut ini.

Sedangkan pada sisi timur candi ini terbentang ruas jalan bebas motor (toll) Semarang-Solo, yang berjarak hanya sekitar 600 meter dari lokasi candi. Menakjubkan.

Menarik bagi saya mengetahui tentang cerita candi ini. Welling menjelaskan bahwa di sekitar Candi Ngempon juga terdapat pertirtaan atau sumber air yang biasa digunakan para pendeta untuk istirahat dan penyucian diri setelah menjalani ritual keagamaan.

Letak pertirtaan ini bersebelahan dengan kompleks Candi Ngempon. Waktu itu saya dan Welling sempat menyebrangi sungai untuk melihat lokasi pertirtaan ini, tapi tidak sempat masuk, lalu memutuskan untuk kembali ke pelataran candi.

Sambil menikmati segelas kopi dari dalam termos stainless, saya dan Welling duduk selonjoran di pelataran candi. Menikmati pergerakan alam.

Bayangan candi kini memanjang ke arah timur, sedang, di ufuk barat batara kala berubah menjadi jingga menyala.

Saya khusyuk mendengarkan Welling bercerita.

Cerita singkat Candi Ngempon

Kompleks Candi Ngempon terdiri dari sembilan bangunan. Terdapat empat candi besar yang sudah direkonstruksi, satu candi induk dan tiga candi perwara (pendamping). Sisanya masih berupa tumpukan-tumpukan batu yang tersusun.

Saya ingat, Welling mengisahkan, candi yang diperkirakan dibangun jaman kerajaan Mataram sekitar abad ke-8 ini adalah tempat untuk belajar para pendeta Hindu yang berasal dari kasta Brahmana. Para pendeta Hindu itu belajar dan diwisuda di Candi Ngempon.

Penyebutan Ngempon berasal dari kata empon atau empu. Candi Ngempon ini dahulunya digunakan oleh para empu atau pendeta Hindu untuk menggodok diri dalam urusan kebatinan dan kerohanian. Oleh karenanya candi ini disebut Candi Ngempon.

Secara geografis letak Candi Ngempon ini berada di wilayah utara Jawa Tengah. Namun secara struktur, candi ini dibuat dengan corak seperti candi di wilayah selatan Jawa Tengah.

Perbedaan struktur candi antara wilayah utara dan selatan Jawa Tengah secara umum dapat dibedakan pada penataannya. Candi di wilayah utara Jawa umumnya dibuat oleh Wangsa Sanjaya, letak candi tidak beraturan, seperti Candi Dieng dan Candi Gedongsongo. Sementara candi di wilayah selatan Jawa Tengah, umumnya dibuat oleh Wangsa Sailendra, dan adanya candi induk dengan dikelilingi oleh candi perwara, seperti Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.

Menurut Welling, pengelompokkan Candi Ngempon ini masih menjadi misteri, apakah masuk dalam kategori candi utara Jawa atau selatan Jawa, seperti teori R. Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid 2 (1981). Namun Welling memberikan gagasan, kemungkinan Candi Ngempon yang berada di utara Jawa Tengah ini dibangun oleh insinyur atau tukang bangunan yang berasal dari daerah selatan Jawa Tengah.

Saya setuju dengan gagasannya. Karena saya belum menemukan teori yang tepat untuk mengkritiknya.

Saat itu hanya saya dan Welling yang ada di lokasi candi. Sore hari menjelang matahari terbenam. Suasana sangat teduh dan asri. Sesekali Welling mengamati relief yang terukir di bangunan candi sambil membuka handphone untuk membaca lagi tentang candi ini.

Menikmati sore Candi Ngempon di pinggiran kota yang ingar-bingar oleh pembangunan, terasa seperti masuk dalam mesin waktu. Suasana menjadi seperti berwarna sephia dengan terpaan angin yang lembut.

Dari pelataran candi Hindu bekas tempat penggodokan pendeta ini saya mendengar sayup-sayup pengeras suara musholla melantunkan lafaz Al-quran. Bayangan candi sudah tidak nampak. Matahari di barat sudah hilang. Serangga malam mulai bersahutan. Saya dan Welling keluar pelataran secara perlahan.

Nantikan artikel menarik dari ourstory.id seputar sejarah, budaya, dan alam Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here