Di tengah gempuran arus digital yang semakin kencang, menjadi dan tetap kreatif adalah pilihan paling aman agar bisa menjadi bagian dari dunia yang sedang bekerja. Banyaknya perusahaan startup yang hadir di bursa kerja menjadi sebuah tantangan baru bagi kaum pekerja dalam memantaskan diri untuk menyelami dunia kerja. Kerja di Startup
Semakin canggihnya teknologi yang jalan beriringan dengan sektor bisnis membuat beberapa perusahaan arus utama (konvensional) harus juga berbenah menyiapkan perubahan itu. Keberhasilan dalam mengiringi perkembangan teknologi menjadikan perusahaan dapat bergerak lebih lincah.
Dalam buku The Innovator’s Dilemma: The Revolutionary National Bestseller That Changed the Way We do Business karya Clayton M Christensen, disebutkan, orang-orang cukup fleksibel, karena mereka dapat dilatih untuk berhasil dalam berbagai hal yang sangat berbeda. Seorang karyawan IBM, misalnya, dapat dengan mudah mengubah cara kerjanya, agar berhasil bekerja di sebuah perusahaan startup. Tapi proses dan nilainya tidak fleksibel. (hal. xxvii).
Kerja di Startup
Bagi suatu perusahaan membuat karyawan menjadi lebih gesit dalam proses kerja, seperti melakukan tugas yang bukan kewajibannya, mungkin mudah saja dilakukan. Namun apakah cara itu membuat karyawan tersebut senang melakukannya?
Mantan Pemimpin Redaksi Ziliun.com, Azwar (27) menyebutkan, pengalamannya bekerja di perusahaan startup sangat menyenangkan dan menantang. Menurutnya startup memiliki ekosistem komplit dari berbagai latar belakang orang-orang yang mampu mengakomodir ilmu pengetahuan baru.
“Gue bisa mudah mencari tahu, belajar, dan terkoneksi dengan siapa saja tanpa ada batasan gap jabatan dan usia.” jelas Azwar saat berbicang via Whatsapp, Minggu (21/03/2021).
Meskipun lingkup kerja startup yang dinamis, mulai dari sumber daya, proses kerja, dan hasilnya, namun menurut Azwar ada beberapa masalah yang akan dihadapi oleh mereka yang baru mulai bekerja setelah lulus kuliah atau fresh graduate. Budaya kerja di startup yang menuntut pekerjanya untuk serba bisa, menurut Azwar, setiap karyawannya harus bisa atau setidaknya mengerti pekerjaan antar divisi, selain tugas utamanya.
“Alasan untuk menghemat resource juga sering menjadi dalih perusahaan untuk melimpahkan tanggung jawab lebih ke satu orang.” kata Azwar.
Menjadi serba bisa saat bekerja di startup memang akan membuat perusahaan mendapat bonus dari karyawan, karena mudah bagi perusahaan untuk mengandalkan sumber daya seperti itu yang gesit dan mampu melakukan apa saja.
Baca Juga: Waralaba Dominos Pizaa, Tumbuh Besar Berkat Inovasi
Sementara di lain pihak, seseorang yang tidak senang dengan pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya akan merasa terbebani, bahkan berdampak pada keputusan untuk pindah tempat kerja karena merasa tidak nyaman.
“Junior gue, gue lempar project ke klien, biasa nulis di kantor doang, udah mau resign. Pas ditanya mau resign kenapa? Emang, udah dapet kerjaan baru? Emang, lo udah ada tujuan? (dia) Gak bisa jawab,” jelas Azwar.
Azwar menambahkan, pola generasi pekerja sekarang khususnya milenial di startup, mayoritas menampilkan kesan sebagai pekerja yang manja. Menurutnya, sebagai pimpinan redaksi yang mempunyai tanggung jawab terhadap bawahannya, Azwar merasa kurang bisa mengimbangi pola tersebut.
“Males jalanin proses kali, ya.” jelas alumni Ilmu Perpusatakaan Universitas Diponegoro itu.
Menjadi Kreatif atau Sudah Harus Kreatif?
Tuntutan baru dalam bursa kerja di ranah digital terus berkembang dan bervariasi. Jenis-jenis pekerjaan baru yang muncul merupakan pengembangan dan inovasi dari sebelumnya.
Seperti dalam bidang disiplin tulis dan produksi konten, misalnya. Saat ini banyak perusahaan digital yang telah membuka jenis pekerjaan untuk posisi UX Writer, Technical Writer, atau SEO Writer. Bahkan ada juga perusahaan yang dengan terang-terangan membuka lowongan untuk posisi TikTok Content Creator. Tugasnya tidak jauh berbeda dengan membuat konten berupa video untuk suatu produk yang akan dipasarkan.
Jenis pekerjaan baru seperti yang disebutkan di atas tentu akan menuntut para pekerja untuk bisa mengikuti perkembangannya. Bagi mereka yang senang meng-upgrade diri tentu akan melihat hal itu sebagai tantangan jaman dan harus ikut bergerak. Namun, bagi yang pasif dan kolot dalam mengimplementasikan disiplin ilmunya, seperti tidak mau kerja jika tidak sesuai latar belakaang pendidikan, misalnya, individu yang seperti itu akan hanya bisa melihat dunia yang sedang tertawa-tawa tanpa bisa ikut serta.
“Walaupun spesifik, tapi bidang pekerjaan itu butuh sekali penyerapan ilmu dari berbagai bidang. UX Writer, mengombinasikan kemampuan menulis, psikologi, desain, hingga komunikasi. Begitu juga dengan job title yang lain.” jelas Azwar.
Sementara itu, tugas besar negara dalam melihat dunia kerja di era digital terkait etika juga harus dikelola dengan tepat. Masalah etika seperti privasi, penyalahgunaan data, lingkungan, isu gender, dan ras harus diperhatikan agar tidak memberikan dampak buruk antara pekerja dan perusahaan tempatnya bernaung.
Hal senada juga dirasakan oleh Acoy (27) yang saat ini bekerja sebagai NGO Consultant Strategy di kitabisa.com. Ia memprediksi dalam waktu sepuluh tahun ke depan akan banyak sekali kesempatan kerja yang akan terbuka, khususnya dalam ranah digital.
Tantangan kompani-kompani tersebut dalam membuat ekosistem kerja yang lebih dinamis dan tumbuh sebagai gurita, tidak lepas dari peran para insan kreatif di dalamnya yang saling bersinergi antar disiplin ilmu.
Acoy yang saat ini juga mengelola penakota.id menjelaskan bahwa dirinya sudah memikirkan potensi bisnis dalam menjalankan websitenya itu. Walaupun pekerjaannya berbeda dari latar belakang pendidikannya sebagai lulusan Sastra Indonesia, Acoy melihat era digital sekarang dapat memberikan peluang bagi dirinya untuk bisa ikut dan berkembang di dalam arus pusarannya.
“Dengan gue mendirikan penakota, itu udah bisa menjadi kerangka berpikir bisnis kreatif,” jelas Acoy.
Acoy menambahkan, para pekerja di masa mendatang wajib untuk berpikir kreatif. Adaptasi sangat penting dilakukan untuk update dan upgrade kemampuan yang dimiliki untuk menyesuaikan jaman agar tidak tertinggal.
Namun di balik meriahnya dunia kerja startup tentu tidak lepas dari permasalahan yang juga menggelayut di tiap individunya. Semakin bertambahnya usia dan beban finansial serta kesehatan mental para pekerja akan menciptakan gap yang akan sering ditemui di tiap perusahaan.
“Milenials akan merasa lebih superior dan menjadi kutu lompat. Integritas agak kurang, tapi kreativitasnya tinggi sekali.” kata Acoy.
Dunia kerja digital di masa mendatang berada di tangan generasi yang saat ini sedang duduk gelisah membuuat desain poster untuk iklan klien, atau seorang human resources yang sedang bingung untuk menggaet personal yang akan di tempatkan sebagai web developer dengan portofolio yang sangat bergairah namun psikologinya lemah. Cetak biru generasi pekerja digital yang lebih matang di masa mendatang sepenuhnya ada di waktu sekarang ini.
