Jumat malam tanggal 31 Agustus 2018 silam, selepas pulang kantor saya langsung menuju ke Otista Jakarta Timur, jemput Kinkin. Kami mau pergi kemping ke suatu bukit di Bogor. Melepas penat, sekaligus merayakan tanggal gajian. Ke Gunung Kencana Bogor dan lanskap indah di sekitarnya, menarik untuk dikunjungi.

Sebelumnya, selama hari Senin sampe hari sebelum berangkat saya ngabarin ke temen-temen yang biasa ikut kemping untuk gabung. Tapi pada gak bisa karena ada acara masing-masing. Akhirnya ada satu kawan yang mau. Mone. Si montir perkasa yang dari dua minggu lalu ngajakin jalan terus.

Janjian di rumah Jul, di Kober Margonda buat nyapin alat dan lainnya. Jam satu malem hari Sabtu berangkat ke lokasi yang akhirnya kita tetapkeun untuk kemping di Gunung Kencana. Sesuai petunjuk dari media sosial, mulai dari foto-foto di Instagram, blog, sampe berita seputar Gunung Kencana. Akhirnya saya, Kinkin dan Mone berangkat.

Ke Gunung Kencana di Rawa Gede

Gunung Kencana terletak di Kampung Rawa Gede, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Puncanya berdiri di ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut. Selain itu, di kaki gunung ini terdapat hamparan perkebunan teh milik PT Sumber Sari Bumi Pakuan atau lebih dikenal dengan Perkebunan Ciliwung.

Perjalanan ke Gunung Kencana waktu itu, kami berangkat dari rumah kawan saya, Jul, di bilangan Margonda. Menggunakan dua sepeda motor, saya dengan Kinkin, dan Mone sendiri. Mulai berangkat pukul 11 malam. Jalanan sepi dan dingin. Namun efekti dan cepat, karena rencananya kita akan mulai trekking pada pagi hari esoknya.

gunung kencana bogor dan lanskap di sekitarnya
peta gunung kencana – foto: avenzamaps.com

Waktu yang ditempuh dari Depok sampai ke daerah Cisarua saat itu, kurang lebih 3 jam, karena kita banyak istirahat untuk menjaga tenaga agar tidak terlalu lelah. Kami sempat berhenti untuk ngopi di dekat pasar Ciawi sekitar pukul 02:00 pagi. Lalu mulai melanjutkan perjalanan setengah jam berikutnya.

Berhenti lagi di Pasar Cisarua untuk membeli tambahan logistik. Sekitar pukul 03:00, sesuai Google Maps, kita sampai di depan gang menuju ke Gunung Kencana. Tepatnya berada di Jalan Nasional 11, Jalan Raya Puncak, sebelah kiri dari arah Jakarta. Di sana terdapat gapura bertuliskan Perkebunan Teh Ciliwung, Tugu, Cisarua. Dari titik ini jalan mulai mengecil.

Setelah melewati gapura, perjalanan pagi buta saat itu terasa lebih seru-seru-iseng, karena kami hanya bertiga dan belum pernah ada yang mengunjungi kawasan ini. Ditambah lagi jalanan yang sepi dan gelap. Kami sepenuhnya mengandalkan bantuan Google Maps untuk sampai ke Basecamp Gunung Kencana.

Hebatnya, Google Maps yang kami gunakan benar-benar membantu selama perjalanan untuk dapat mencapai Basecamp Gunung Kencana. Walaupun di beberapa lokasi di tengah perkebunan teh, handphone saya tidak bisa menangkap sinyal, namun aplikasi itu memang tetap membantu dalam mencapai titik basecamp.

Akses menuju basecamp saat itu masih sangat kasar. Banyak dijumpai jalan bekas aspal yang rusak akibat tergerus. Ditemui juga jalanan tanah yang tergenang air dan becek. Sepertinya habis hujan. Serta jalan berbatuan yang tajam.

Kami sempat salah jalan, dan masuk ke dalam halaman Pabrik Teh Gunung Mas. Setelah membaca Google Maps (lagi) kami memutar balik dan masuk ke jalur yang sesuai.

Selanjutnya kami menjumpai tempat wisata The Woodens, dan jalan yang berbelok sekaligus menanjak dan berbatu. Saat di tanjakan ini, motor Mone sempat mengalami slip pada ban belakang. Mone menggunakan motor Honda Tiger, saat itu. Hingga akhirnya kami sampai di pertigaan ujung tanjakan dengan jalan yang sudah diaspal rapi.

Di sini terdapat sebuah pos dan ada beberapa warga yang sedang membakar kayu di depan jalan yang diportal. Lalu kami bertanya tentang jalur untuk menuju ke Basecamp Gunung Kencana.

Kata warga di situ, kami bisa ke Basecamp Gunung Kencana menggunakan jalan tersebut, tapi agak memutar. Saya pikir tidak masalah mengikuti arahan itu, selama jalannya masih sama untuk menuju ke titik basecamp.

Sampai akhirnya kami mengikuti jalan tersebut. Setelah melewati jalan aspal itu, kami masuk ke perkampungan dan mulai terdengar suara pengajian pertanda akan masuk waktu sholat subuh, jam menunjukkan pukul 04:00.

Baca Juga: Sagu Sebagai Makanan Khas Papua

Di perkampungan kami sempat berpapasan dengan rombongan yang juga mau camping di Gunung Kencana. Saya sempat bertanya kepada mereka perihal jalan ke Basecamp Gunung Kencana, dan ternyata memang benar jalannya lewat jalur ini. Kemudian kami berpisah, mereka ke musholla untuk sholat subuh, sedangkan kami melanjutkan perjalanan.

Hingga akhirnya kami sampai di kebun teh, dan kembali melihat Google Maps untuk memastikan jalannya sesuai, karena jalur di perkebunan teh yang berkelok-kelok dengan bebatuan kasar sempat membuat bingung. Ditambah lagi suasana subuh waktu itu yang belum terang.

Saat itu, jam sudah menujukkan pukul 04:30. Kami berhenti sejenak di tengah perkebunan teh. Kinkin minta istirahat sebentar untuk sekadar meluruskan kaki dan mengendurkan otot pantat. Saya dan Mone memasak air untuk membuat kopi. Setengah jam kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Langit sudah nampak agak terang dengan warna pagi kebiruan. Suara burung bersahutan mengiringi deru motor yang kami gunakan. Dalam kabut tipis yang sejuk tampak sebuah bukit menjulang. Itulah titik Gunung Kencana yang terlihat dari perkebunan teh. Nampaknya tinggal sedikit lagi sampai. Gumam saya dalam hati.

Tepat pukul 05:45 kami tiba di warung dengan halaman yang agak luas sebagai tempat parkir kendaraan. Saat itu ada sebuah mobil city car terparkir. Saya berpikir, jalan mana yan digunakan mobil itu untuk sampai ke daerah ini dengan jalur yang kasar seperti tadi? Menurut orang di warung, ternyata ada satu jalur lagi yang dapat diakses, bahkan bisa dilalui mobil untuk sampai ke kawasan itu. Makanya mobil city car yang terpakir di depan warung itu bisa sampai kesini.

Kami istirahat di warung itu. Memesan mie instan dan memakan gorengan. Kinkin minum teh hangat, saya dan mone minum kopi, sembari merenggangkan otot dan persendian yang cukup tegang selama perjalanan dari Cisarua ke dalam perkebunan teh.

Matahari hari itu, Sabtu 01 September 2018 tidak tampak bersinar walaupun jam sudah menujukkan pukul 06:30. Lalu kami mulai berkemas menyiapkan peralatan untuk memulai naik ke atas Gunung Kencana Bogor dan lanskap indah di sekitarnya yang mempesona.

lanskap gunung gede-pangrango dari kebun teh gunung kencana – foto: kompas.com

Naik ke puncak gunung

Dari tempat parkir kendaraan yang berada di tengah-tengah kebun teh, kami melanjutkan dengan berjalan kaki menuju Basecamp Gunung Kencana. Melintasi perkebunan yang hijau dengan jalan bebatuan. Kawasan ini berada di ketinggi kira-kira 800-1000 meter di atas permukaan laut.

Lanskap yang sangat bagus dapat dilihat dari sini. Hamparan kebun teh yang dikelilingi bukit-bukit kecil di sekitarnya. Ada juga beberapa perumahan warga yang merupakan pekerja kebun. Perkampungan ini dikenal dengan sebutan Kampung LC (Lahan Cadangan).

Tepat pukul 07:00 kami tiba di sebuah pos pendaftaran. Belum ada penjaga saat itu, mungkin terlalu pagi. Tanpa berlama-lama karena tidak ada orang yang terlihat, kami melanjutkan untuk naik tanpa mendaftarkan diri.

Jalur pembuka ke Gunung Kencana diawali oleh tanjakan curam dan ditandai oleh gapura bertuliskan Tanjakan Sambalado. Sebuah tanjakan yang katanya sangat pedas dan gurih.

Hutan di Gunung Kencana di dominasi tumbuhan tropis khas gunung di Jawa pada umumnya. Basah dan lembab. Suasanyanya sangat membuat tenang dengan aroma yang menyejukkan.

Selang 45 menit kemudian, sekitar pukul 08:00 kita tiba di puncak Gunung Kencana. Kondisi masih sepi tidak terlalu ramai tenda pendaki, dan kami merupakan rombongan pertama yang datang dihari itu.

Di gunung ini, lokasi puncaknya adalah kawasan yang paling ideal untuk mendirikan tenda. Berupa lahan luas sekitar 100 meter persegi dan datar. Di sekitar puncak, saat saya mendaki tidak ada sumber air, jadi air yang dibawa harus agak banyak untuk kebutuhan minum dan masak.

Gunung Kencana Bogor dan lanskap indah di sekitarnya
kecanggihan google earth dalam memvisualisasi lanskap puncak gunung kencana menghadap ke arah selatan – foto: google earth

Lanskap Gunung Gede-Pangrango yang sangat jelas

Pagi hari di puncak Gunung Kencana Bogor dan lanskap indah di sekitarnya cukup membuat perasaan menjadi lebih senang. Walaupun cuaca saat itu agak mendung, namun pemandangan yang disuguhkan cukup bagus. Memang, Gunung Kencana Bogor dan lanskap indah di sekitarnya menarik untuk dijadikan tempat melepas penat.

Gunung Kencana merupakan salah satu puncak bukit di pegunungan Megamendung yang membentang dari Cisarua hingga Cianjur dengan panjang kurang lebih 17 km. Dari sinilah cara menikmati Gunung Gede-Pangrango dengan sudut pandang paling baik dan menyenangkan.

Saat di puncak, jika menghadap ke arah selatan akan tampak jelas Gunung Gede-Pangrango dalam rupa yang utuh. Puncak Gunung Pangrango yang seperti tumpeng dipotong akan sangat jelas terlihat, berdampingan dengan puncak dan kawah Gunung Gede, yang pada saat itu terlihat jelas kepulan asap belerang dari dalam kawahnya.

Pada sisi Barat Daya, saat itu juga tampak Gunung Salak dalam bayang kabut yang samar. Menjulang dalam kesendirian dengan dikelilingi kota dengan segala macam pembangunan di bawahnya. Sedangkan pada sisi utara di puncak gunung ini terdapat Situ Rawa Gede, namun tidak terlihat dengan jelas. Adapun di sisi timurnya membentang perbukitan Megamendung.

Saya dan Kinkin menikmati pagi yang segar ditemani secangkir kopi sambil menghadap ke arah Gunung Gede-Pangrango. Mone mengambil gitar kecil yang sengaja ia bawa untuk memetik suara di tengah alam. Lalu terdengar alunan Sepanjang Jalan Kenangan. Mone pun menyanyi pelan.

Suasana pagi di puncak Gunung Kencana saat itu tidak terlalu ramai, jadi sangat puas menikmatinya, setelah sampai di sana dari semalaman mengendarai motor melalui jalanan yang membuat badan terasa pegal.

Menjelang sore hari tampak banyak pendaki yang mulai berdatangan mengisi lapak-lapak di puncak yang sudah agak ramai. Banyak dari mereka yang datang sebagai rombongan. Hingga sampai malam hari, suasana di puncak sudah benar-benar ramai. Dari luas lahan sekitar 100 meter persegi yang pada pagi hari masih kosong, kini sudah hampir penuh.

Pada malam hari pemandangan di puncak Gunung Kencana sangat bagus. Terlihat lampu-lampu kota di Bogor dan kawasan Puncak yang ramai. Dari kejauhan tampak beberapa titik lampu dari villa-villa yang dibangun di atas bukit saling menjaga jarak antara villa lainnya sampai pada batas yang cukup jauh, menjadi kesan tersendiri bagi saya.

Setelah makan malam kami habiskan waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul. Gerimis turun. Dari dalam tenda terdengar suara gerimis terdengar sangat syahdu. Menabrak flysheet tenda. Menyentuh daun-daun serta tanah, dan membuat aroma basah yang khas.

Saya membuka tenda. Angin segar langsung menghembus ke dalam tenda. Rasanya, seperti Anda  menjadi Ironmen. Wajah saya seakan-akan dipenuhi dengan topeng tak kasat mata berupa angin.

Dari luar terdengar para pendaki yang tengah bercengkrama. Hingga waktu menunjukkan pukul 12 malam kami mulai tertidur. Tidak ada mimpi malam itu. Hanya lelah dan rasa puas hati yang saya rasa karena berhasil sampai di Gunung Kencana dan melihat Gunung Gede-Pangrango dalam bentuk yang terbaik sepanjang saya memandang dari puncak itu.

Pagi hari, Minggu 02 September 2018 kami mulai berkemas untuk pulang. Ditemani matahari pagi yang bersinar sedikit malu, dan diiringi kicauan burung. Setelah sarapan roti, daging ham, sosis, telur cinta dan segelas susu, kami mula turun. Tepat pukul 09:00 kami turun dari puncak Gunung Kencana. Lalu langsung menuju Jakarta. Kembali melintasi jalan Mc. Adam di hamparan perkebunan teh yang hijau. Satu lagi kenangan tersimpan rapi dalam ingatan. Gunung Kencana Bogor dan lanskap indah di sekitarnya, sangat menarik untuk dikunjungi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here