Pesona Gunung Batu Jonggol Jawa Barat – Sudah seminggu kami merencanakan untuk naik gunung. Banyak pilihan gunung di Indonesia. Khususnya di pulau jawa ini. Namun sepertinya kami harus menyocokan tanggal merah terlebih dahulu karena sebagian dari kami sudah memiliki aktivitas harian. Hanya ada waktu senggang sabtu dan minggu.

Kami memutuskan mengurungkan niat untuk mendaki gunung yang membutuhkan waktu lebih dari 3 hari 2 malam. Rencana kami bergeser ke gunung yang paling terdekat jaraknya dengan kota jakarta. Ya! Gunung Jawa Barat sepertinya bisa didaki dengan waktu yang singkat. Sepintas nama-nama gunung besar di Jawa barat terlintas di benak kami. Gunung Salak, Gunung Gede Pangrango, Gunung Papandayan, dan Gunung lainnya.

Kemudian dari gunung di atas kami seleksi lagi sesuai kemampuan kami. Setelah di pikir-pikir tidak memungkinkan mendaki gunung tersebut karena masih memakan waktu minimalnya 3 hari 2 malam. Beberapa gunung memiliki persyaratan khusus seperti administrasi terlebih lagi tahun ini merupakan tahun pandemi, dimana tempat wisata banyak yang ditutup sementara.

Tidak Tinggi Namun Menantang

Kami memutuskan mencari ide di google dengan keyword Pesona Gunung Jawa Barat. Kami menemukan hal yang menarik yaitu ada beberapa gunung di daerah Cariu Jonggol. Salah satunya Gunung Batu. Informasi yang terdapat di Google terbilang cukup lengkap. Ketinggian Gunung Batu Jonggol Jawa Barat berkisar 875 Mdpl. Apakah itu termasuk dalam gunung?.

Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang tinggi dibandingkan dengan daerah di sekitarnya. Gunung biasanya lebih tinggi dan lebih curam dibandingkan dengan bukit. Beberapa otoritas mendefiniskan gunung dengan puncak lebih dari besaran tertentu misalnya ketinggian minimum yang disebut gunung adalah 2000 kaki (610m).

Kami tidak terlalu memikirkan ketinggian suatu gunung. Hal yang kami ingin lakukan adalah pergi ke suatu tempat baru dan ingin sekali mendapatkan pengalaman baru. Kami tidak berekspetasi bahwa gunung itu harus dingin, vegetasi lebat dan lingkungan perkebunan yang luas. Kami yakin setiap gunung memiliki keistimewaannya, pemandangan, kebiasan warga lokal, aktivitas ekonomi, flora dan fauna, dan trek – trek menantang yang disuguhkan alam.

Kejutan yang alam berikan kepada kami merupakan anugerah bagi kami. Kejutan itu menjadi candu kami pergi ke suatu tempat yang baru dan mencatat gambaran perjalanan melalui teks, gambar dan visual.

Berangkat tanpa pengalaman sebelumnya?

Jumat, 4 september 2020 H-1 sebelum keberangkatan. Saya, Bili, Mone merupakan pengagas ide naik gunung batu. Seberapapun orangnya kami tetap jalan ke tempat tujuan. Persiapan alat pun kami mulai cicil seperti kompor dua, nesting satu, sleeping bag satu, dan daypack 30L. Peralatan pribadi lainnya mungkin jaket, sepatu atau sendal, jas hujan dan trashbag. Kami merencanakan untuk tidak menginap atau camping tapi alat harus kami bawa sebagai standar pendakian.

Logistik kami isi dengan beberapa cemilan seperti biskuit, mie instan dan buah-buahan. Kami juga mendapatkan informasi bahwa di sana sudah ada beberapa warung.

Perlu diperhatikan gunung batu tidak ada sumber air di jalur pendakian, itu artinya kami harus menyiapkan cadangan air yang cukup untuk mendaki.

Agak berlebihan memang membawa peralatan dan logistik lengkap ke gunung yang tidak tinggi, apalagi tidak camping. Namun ini sudah menjadi kebiasaan kami melakukan persiapan ini dari dulu. Hal ini kami lakukan sebagai bentuk penghormatan kami atas situasi yang tidak dapat kami kendalikan di alam. Apapun bisa terjadi di alam.

Baca juga: Lansekap Indah Gunung Kencana Bogor

Beberapa hari akhirnya kami sepakat untuk mendaki Gunung Batu Jonggol. Informasi yang kami kumpulan juga terbilang lengkap. Google maps menjadi andalan kami, meskipun terkadang sering berinisiatip mengarahkan kami ke jalan-jalan alternatif.

Sabtu, 5 September 2020 sejak siang kami sudah ribut di grup untuk persiapan berangkat nanti malam. Satu persatu teman yang lain berminat untuk ikut. Akhirnya Saya, Bili, Mone, Bonte, Tari, Gea sepakat untuk ikut. Pukul menunjukan waktu 21.00 wib. Lokasi kumpul juga kami telah tentukan yaitu di warung kopi kuning di sekitaran balai rakyat Pasar Minggu, Jakarta selatan.  Sebagian besar kami tinggal di wilayah jakarta selatan, kecuali Tari anak rantau dari Palu Sulawesi yang ngekost di kawasan Margonda, Depok.

Kami naik motor untuk menuju kawasan Gunung Batu Jonggol. Saya dengan bili, Mone dengan Gea dan Bonte dengan Tari. Kengaretan kami berujung pada berangkat pukul 01.00 wib. Kami berdoa dan berangkatlah kami. Kami mendapat cerita dari beberapa sumber bahwa rute yang kami lalui lumayan rawan tindak kriminal, namun kami yakin dan berdoa supaya diberi keselamatan.

Googlemaps.com

Jalur yang disarankan Googlemaps

Ada dua jalur yang disarankan oleh googlemaps, yang pertama rute Pasar minggu – Jalan raya Bogor Cibinong – Citereup dan Cibadak. Rute kedua Pasar Minggu – Cileungsi – Jonggol. Kami memilih melewati Jonggol karena lebih familiar saja dibandingkan dengan Cibadak. Kami berjalan dengan patokan pertama Pom Bensin Jonggol yang lurus ke Jonggol kota dan yang ke kiri arah Cariu – arah Cianjur. Benar kita salah jalan, Kami berputar di Alun-alun kota Jonggol kemudian keluar lagi di jalan Cariu yang sebelumnya kami ingin lewat sana. Setelah jalan besar, kami di arahkan belok kanan melewati sawah –sawah dan pemukiman warga. Kami pikir salah, namun Kami tetap lanjutkan karena kami sudah sepakat bahwa keputusan salah sekalipun tetap kami perbaiki nanti.

Pukul menunjukan 02.30 namun pemandangan gunung belum terlihat, hanya malam pekat yang menjadi teman kami sesekali kami bercanda soal tyrex yang akan keluar dari semak belukar. Candaan ini sebenarnya untuk mengusir rasa ngeri kami di jalan sepi. Meskipun kami beriringan, tetep saja kadang sepi sekali.

Menuju Puncak Gunung Batu Jonggol

Akhirnya kami sampai di parkiran gunung Batu. Tidak ada kantor khusus untuk mengurusi soal simaksi, hanya ada beberapa pemuda yang mengobrol di saung-saung yang dibangun. Warung – warung yang berjejer pun hanya satu yang buka. Padahal ini malam minggu. Biaya retribusi parkiran Rp. 25.000 per motor alasannya karena kami datang pada malam hari. Sebelumnya informasi yang beredar hanya Rp. 15.000 – 20.000 per motor.

Jam 03.10 wib kami beristirahat di warung, memesan kopi, peregangan otot kami yang mulai kaku dan ada beberapa yang sudah tertidur. Kami janjian untuk melakukan pendakian pada jam 04.30 wib dengan harapan sunrise di puncak. Namun perjalanan dimulai pada pukul 04.45 wib.

Pesona Gunung Batu Jonggol Jawa Barat
Credit: Ourstoryid

Cuaca terbilang cukup cerah meskipun sedikit berkabut. Treking kami awali dengan melewati cafe ki demang di sebelah kiri jalan batu kerikil di depan kami. Jalan nampak menurun dan bertemulah kami di persimpangan yang dikatakan pos I Gunung Batu. Di sini kami membayar biaya masuk sebesar Rp. 15.000 perorang dengan selembar tiket masuk. Kami diarahkan untuk ikuti saja jalur yang ada pasti akan sampai ke puncak.

Kondisi Trek Gunung Batu Jonggol

Setelah Pos 1 kami lanjutkan perjalanan dengan melipir ke arah kiri. Melewati batu kali tajam yang berserakan di jalan kami. Setelah itu tanjakan menghujani kami. Lumayan terengah-engah nafas kami. Sejenak kami istirahat dan melanjutkan perjalanan kami.

Suhu di gunung ini terbilang hangat saat malam hari, namun angin sejuk menambah semangat kami untuk menggapai puncak. Gemerlap lampu perdesaan dikejauhan menandakan kami sudah lumayan tinggi. Setengah jam kami berjalan matahari sudah mulai nampak tapi malu-malu di tutupi awan mendung.

Pesona Gunung Batu Jonggol Jawa Barat
Doc. Ourstoryid

Selang beberapa waktu kami menemukan area camping di sebelah kanan kami. Ada tiga tenda yang sudah berdiri sejak sabtu malam. Sejenak kita berhenti di sini untuk menarik nafas kami.

Kami melanjutkan perjalanan, kami dihadapkan pada tanjakan panjang dengan tali untuk mempermudah dalam mendaki. Pukul 06.00 Wib Kami melewati tanjakan yang cukup curam dan panjang. Kami menamakan tanjakan ini tanjakan mantap karena lumayan membuat lutut kami bekerja lebih keras daripada biasanya. Kemiringan dijalur Gunung Batu, antara 45-90 derajat nyaris tegak lurus. Setelah tanjakan ini kami beristirahat lagi dan melihat pemandangan yang semakin terbuka. Mata kami dimanjakan beberapa saat ketika kami menoleh ke belakang.

Pesona Gunung Batu Jonggol Jawa Barat
Doc. Ourstoryid

Di gunung batu ini kami menemukan beberapa puncak bayangan namun puncak yang sebenarnya ditandai dengan bendera merah putih di atasnya. Saya sempat bertemu seseorang yang tidak melanjutkan perjalanannya. Sudah dua kali dia mendaki Gunung Batu tapi belum sampai puncak karena sedikit bermasalah dengan ketinggian. Saya hanya memberi semangat, semoga dilain waktu dapat diberikan kesempatan sampai ke puncak gunung Batu.

Pesona Gunung Batu Jonggol Jawa Barat
Doc. Ourstoryid

Jalan Setapak yang Menegangkan

Perjalanan merupakan proses pembelajaran seseorang. Khususnya mendaki gunung bukan perihal fisik dan mental saja yang diuji tapi belajar banyak hal tentang kemampuan mengendalikan diri sendiri, berkomunikasi dengan teman seperjalanan dan menjaga lingkungan sekitar agar tetep memberikan energi positif.

Perjalanan kami agak tersendat karena trek yang disuguhkan sangat keras menguras fisik kami. Kami berhenti di puncak bayangan dan sejenak menikmati pemadangan yang indah. Vegetasi di gunung Batu didominasi dengan ilalang jadi pemandangan sangat jelas ke bawah. Kanan kiri juga terdapat jurang yang sangat dalam.

Tonton Selengkapnya di Youtube Channel Kami:

Akhirnya kami tiba di Puncak pukul 06.15 wib melihat Pesona Gunung Batu Jonggol Jawa Barat . Ada beberapa rombongan yang sudah hadir terlebih dahulu. Mereka berfoto-foto dengan latar matahari pagi yang indah dan pemandangan kota-kota dan pedesaan dikejauhan. Kami bersiap untuk memasak mie instan dan memasak air untuk membuat kopi dulu setelah itu kami berfoto dan turun. Tidak lupa kami mendoakan yang telah mendahului kami di gunung ini.

Pesona Gunung Batu Jonggol Jawa Barat
Doc. Ourstoryid

Pesona Gunung Batu Jonggol Jawa Barat berada di puncak ditandai dengan adanya bendera merah putih dan plat hitam in memoriam. Bertuliskan Andri Cahya Nugraha yang lahir Oktober 1992 dan wafat 03 mei 2015. Jalur Gunung Batu memiliki karakter tanah merah kering. Jika hujan, sangat licin dan kemungkinan kecelakaan sangat tinggi. Di butuhkan keseimbangan dan kehati-hatian agar tetap fokus berada di jalur setapak kanan kiri jurang ini.

Menuruni Jalan Setapak yang Curam

Kami sudah puas foto-foto, pukul 08.00 kami turun dengan berhati-hati. Bebatuan yang kami pijak seakan goyang dan tidak pas. Namun kami yakin mampu melanjutkan jalan turun kami. Kami sampai di tempat camping Gunung Batu dan melihat beberapa monyet bermain dan melompat di antara pepohonan. Sungguh pemandangan yang menakjubkan bisa melihat monyet liar di sini.

Pukul 08.38 Wib kami sampai di parkiran Gunung Batu. Parkiran ini ternyata luas sekali. Terlihat ada beberapa mobil yang parkir. Sesekali tim sepeda melewati dan berenti di warung. Hari minggu pada saat itu memang ada acara komunitas sepeda. Kami beristirahat sejenak dengan memesan es teh manis dan beberapa gorengan.

Pesona Gunung Batu Jonggol Jawa Barat
Doc. Ourstoryid

Pukul 09.40 wib kami memutuskan untuk pulang ke jakarta dengan setumpuk cerita. Kami ulang cerita kami sesaat di rumah makan padang yang kami singgahi di jalan pulang.

Pesona Gunung Batu Jonggol memberikan pengalaman ke kami bahwa alam menyajikan kejutan – kejutannya. Ketinggian yang terbilang pendek ternyata menyimpan sesuatu yang sangat menarik. Perjalanan kami selanjutnya memungkinkan untuk kembali ke kawasan gunung- gunung yang berada di sekitaran Jonggol.

Sumber Informasi awal Gunung Batu Jonggol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here